Kamis, 21 Januari 2016

Gunakan akal agar beruntung.



Manusia sudah dibekali kelengkapan dan kesempurnaan pada saat dia lahir kedunia.  Bekal yang sempurna untuk melaksanakan tugasnya di dunia ini.  Sudah diberikan alat berupa akal  atau bahasa Arab  disebut  ‘aql  yaitu suatu kemampuan memahami,  daya upaya atau ihtiar, menganalisis  sesuatu itu apa benar atau salah. Tetapi pada kenyataannya kenapa masih ada orang yang tak mampu menggunakan akalnya dan tak beranjak dari kehidupannya  hanya begitu begitu saja. Bahasa kerennya sekarang ngga move- on?  Dimanakah letak kesalahannya?

“Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemaren celakalah ia. Barang siapa yang hari ini sama dengan  hari kemaren rugilah ia. Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemaren maka beruntunglah ia.”{hadist)

Begitu yang sering kita dengar apabila penceramah, ustadz, memberikan pencerahannya. Akal yang diberikan kepada manusia untuk digunakan tidak sama dengan yang diberikan kepada mahluk selain manusia. Sudah tidak sepantasnyalah manusia itu terpuruk. Dengan menggunakan  kekuatan akalnya manusia mampu menjadi apapun yang diinginkannya kalau dia mau untuk kelangsungan hidupnya. Kehidupan  harus terus berlangsung dan tumbuh berkembang. Makin hari seharusnya makin menjadi lebih baik tapi fakta masih ada saja yang tidak beranjak dari kehidupannya bahkan stagnan. Dengan cara kekuatan memotivasi dalam diri kita sendirilah yang akan memunculkan solusinya.

“Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepadaku”( QS.Adzariat:56).

Kalau kita sudah mengenal sejak awal ayat tersebut segala sesuatu yang kita kerjakan mestinya diawali dengan niat karena Allah atau bernilai  ibadah.  Sejatinya dilakukan sejak awal sehingga mampu memompa memotivasi kelangsungan hidup. Pemahaman semua yang dikerjakan dalam rangka ibadah dalam arti tidak hanya melulu mengerjakan ibadah rutinitas saja tapi semua hal yang menyangkut aspek dan sendi kehidupan.

Jika di niatkan hidup dalam rangka ibadah kepada Allah maka serta merta akan dapat memacu semangat memotivasi diri untuk melakukan dan mengerjakan  sesuatu  yang berguna untuk kelangsungan kehidupan. Pemahaman yang lebih dalam dan  sempurna akan keyakinan dalam beragama sangat dubutuhkan. Sehingga mengerti secara utuh  yang mana bisa dikerjakan dan yang mana dilarang dalam rangka ibadah.

Keterpurukan terjadi karena kita tidak drive in action kurang menghargai akal akalyang sudah diberikan oleh Allah SWT.  Kurang membuka diri, kurang membuka ruang untuk orang lain, sempitnya cara berpikir, kita hidup  butuh teman, butuh relasi, butuh komunikasi, berhubungan dengan sesama.  Jadilah orang yang beruntung. Orang orang yang beruntung mereka yang mau melakukan proses perjuangan  yang akhirnya mereka menuai apa yang mereka perjuangka dan apa yang mereka tanam.


Mari kita mulai saat ini berusaha bekerja cerdas, ikhlas  seperti yang ada dalam firman Allah dalam kalimat “la ‘allakum tuflihun” insha Allah kita menjadi lebih berani dan lebih kuat dalam berbuat sesuatu sehingga kita menjadi orang orang yang beruntung.

Tidak ada komentar: