Manusia
sudah dibekali kelengkapan dan kesempurnaan pada saat dia lahir kedunia. Bekal yang sempurna untuk melaksanakan
tugasnya di dunia ini. Sudah diberikan
alat berupa akal atau bahasa Arab disebut
‘aql yaitu suatu
kemampuan memahami, daya upaya atau
ihtiar, menganalisis sesuatu itu apa
benar atau salah. Tetapi pada kenyataannya kenapa masih ada orang yang tak mampu
menggunakan akalnya dan tak beranjak dari kehidupannya hanya begitu begitu saja. Bahasa kerennya sekarang
ngga move-
on? Dimanakah letak
kesalahannya?
“Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemaren celakalah ia.
Barang siapa yang hari ini sama dengan
hari kemaren rugilah ia. Barang siapa yang hari ini lebih baik dari
kemaren maka beruntunglah ia.”{hadist)
Begitu
yang sering kita dengar apabila penceramah, ustadz, memberikan pencerahannya.
Akal yang diberikan kepada manusia untuk digunakan tidak sama dengan yang diberikan
kepada mahluk selain manusia. Sudah tidak sepantasnyalah manusia itu terpuruk.
Dengan menggunakan kekuatan akalnya
manusia mampu menjadi apapun yang diinginkannya kalau dia mau untuk
kelangsungan hidupnya. Kehidupan harus
terus berlangsung dan tumbuh berkembang. Makin hari seharusnya makin menjadi
lebih baik tapi fakta masih ada saja yang tidak beranjak dari kehidupannya
bahkan stagnan. Dengan cara kekuatan memotivasi dalam diri kita sendirilah yang
akan memunculkan solusinya.
“Dan
tidak aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepadaku”(
QS.Adzariat:56).
Kalau
kita sudah mengenal sejak awal ayat tersebut segala sesuatu yang kita kerjakan
mestinya diawali dengan niat karena Allah atau bernilai ibadah. Sejatinya dilakukan sejak awal sehingga mampu memompa
memotivasi kelangsungan hidup. Pemahaman semua yang dikerjakan dalam rangka ibadah
dalam arti tidak hanya melulu mengerjakan ibadah rutinitas saja tapi semua hal
yang menyangkut aspek dan sendi kehidupan.
Jika
di niatkan hidup dalam rangka ibadah kepada Allah maka serta merta akan dapat
memacu semangat memotivasi diri untuk melakukan dan mengerjakan sesuatu yang berguna untuk kelangsungan kehidupan. Pemahaman
yang lebih dalam dan sempurna akan
keyakinan dalam beragama sangat dubutuhkan. Sehingga mengerti secara utuh yang mana bisa dikerjakan dan yang mana dilarang
dalam rangka ibadah.
Keterpurukan
terjadi karena kita tidak drive
in action
kurang menghargai akal akalyang sudah diberikan
oleh Allah SWT. Kurang membuka diri,
kurang membuka ruang untuk orang lain, sempitnya cara berpikir, kita hidup butuh teman, butuh relasi, butuh komunikasi, berhubungan
dengan sesama. Jadilah orang yang
beruntung. Orang orang yang beruntung mereka yang mau melakukan proses
perjuangan yang akhirnya mereka menuai
apa yang mereka perjuangka dan apa yang mereka tanam.
Mari
kita mulai saat ini berusaha bekerja cerdas, ikhlas seperti yang ada dalam firman Allah dalam
kalimat “la ‘allakum tuflihun” insha Allah
kita menjadi lebih berani dan lebih kuat dalam berbuat sesuatu sehingga kita
menjadi orang orang yang beruntung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar