Pagi ini habis
shalat shubuh berjamaah takmir masjid mengambil mikopun mengucapkan..”Inna
Lillahi wa inna ilaihi raji'un” telah berpulang tadi pagi Bapak Sukar ke
rahmatullah Ayahnda dari Bapak Budi semoga beliau mendapat tempat yang baik
disisinya dan segala amalnya diterima oleh Allah SWT…Aamiin.” Pengumuman itu mengingatkan kita insan insan yang ber iman bahwa kita
juga akan menyusulnya, tinggal menunggu jadwal waktu. Apakah kita sudah siap?
Bekal apa yang akan kita bawa? Apakah amalan baik ataukah amalan buruk?
Firman Allah :“Setiap
yang hidup (berjiwa ) pasti akan merasakan
mati” ( Surah Ali Imran ayat 185 )
Kalau sudah sampai ketentuan Allah ini tak
satupun yang mampu mengundurkannya kita semua akan menjadi bangkai yang tidak
bernyawa lagi. Ya.. yang bernyawa akan menemui ajalnya berupa kematian. Yang
kaya, miskin, tua, besar kecil, shaleh dan shaleha semuanya pasti akan mati dan
tak akan kembali lagi, yang hanya masih hidup dan kekal hanyalah zat yang
memiliki kemuliaan dan maha kuasa dialah
Allah SWT. Dialah suatu zat yang menciptakan kehidupan dan kematian
bagi
yang terpuji dan terbaik bagi setiap
insan didunia ini.Lalu apakah yang menjadi persiapan kita?
Apakah kita masih terus ingin menumpuk harta yang tiada habisnya? Apakah kita
belum puas dengan harta yang sudah ada? Ataupun menimbun dosa?
Rasulullah pernah bersabda: “Kuburan
adalah tempat pertama dari beberapa tempat di akherat, jika kamu selamat
darinya, maka sesudahnya akan lebih mudah darinya, dan jika kamu tidak selamat,
maka akan lebih berat darinya.”
Dikatakan bahwa setiap Orang yang ber iman
akan selamat dari siksa kubur dan bagi nereka yang tak ber iman adalah awal
dari kehancurannya lebih lebih lagi orang yang munafik. Alam kubur adalah alam
yang benar adanya dimana kita akan dituntut untuk mempertanggungjawabkan segala
amal perbuatan kita selama hidup di alam dunia ini. Alam kubur adalah alam yang
menjadi jembatan antara alam dunia yang fana dan alam akherat yang kekal lagi
abadi.
Alkisah, ketika sayyidatuna Fatimah binti
Rasulullah shallallahu alaihi wassalam wafat setelah penguburannya, Abu Dzar Al
Ghfari berdiri seraya berkata, “Wahai kuburan, tahukah engakau siapa yang kami
kubur? Beliau adalah anak perempuan dari Rasulullah shallallahu alaihi
wassalam, istri Ali bin abi Thalib, Ibunda Hasan dan Hussain radhiyallahu anhum”
Setelah mengatakan demikian terdengar
suara dari alam kubur, “Saya bukanlah tempat untuk orang orang yang bernasab
dan keturunan mulia. Tetapi saya adalah tempat bagi amal shaleh dan kebaikan
kebaikan. Oleh karenanya, tidak aka ada yang selamat dari saya, kecuali orang
orang yang banyak melakukan kebaikan, selamat hatinya, dan ikhlas amalnya.’’
Kiasah diatas dapat kita jadikan renungan,
sesungguhnya dunia yang ramai ini bukanlah tujuan akhir kita. Kita masih
ditunggu dan dinantikan oleh kedua alam, yakni alam kubur dan alam akherat. Dua
alam sudah kita lalui alam kandungan ketika kita masih dalam perut bunda, dan
alam dunia yang kita nikmati sekarang ini. Kematian bukanlah akhir dari
kehidupan tapi awal dari kehidupan sebenarnya. Apakah nanti kita akan mencicipi
manisnya kebahagiaan atau perihnya kesengsaraan di alam kubur, semuanya
tergantung dari segala perbuatan kita di selama dunia ini. Semuanya akan
terbalas pada saat kita ada di alam kubur.
Mari kita persiapkan dan kita imbangkan
antara kedidupan dunia dan kehidupan akherat selama masih diberikan pinjaman
nafas. Lakukan amal amal kebaikan sebagai persiapan bekal kita di alam yang
berikutnya jangan sampai terlena dengan kehidupan dunia yang melenakan ini.
Mari kita kejar amalan amalan untuk menggapai kehidupan dunia dan akherat
sebagai persiapan menjelang ajal tiba yang kita tak pernah tahu jadwalnya. Akhir
kata kematian adalah suatu perkara yang perlu diingatkan bukan untuk ditakuti.
Membaca bahasan tentang kematian serta alam kubur adalah suatu cara mengingatkankita untuk menambah ilmu agar kita lebih siap menghadapinya. Sekian semoga
bermanfaat. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar