Jumat, 19 Februari 2016

Sang teman lupa diri

Seorang Raja mencapai zaman kejayaan tidaklah lepas dari para penasehat atau perdana menteri yang brilian yang dimiliki oleh sebuah kerajaan. Penasehat penasehat inilah yang dimintai pendapat oleh seorang raja ketika mengambil sebuah keputusan keputusan terbaik bagi kerajaan. Sehingga sebuah kerajaan menjadi besar dan jaya sampai ke seantero penjuru  dunia. Tapi kadang penasehat penasehat setia seperti ini mengabdi puluhan tahun tiba tiba mendapat hukuman yang tidak bisa sebanding dengan pengabdiannya. Raja membuat keputusan yang keliru bagi kerajaannya dan yang disalahkan adalah para penasehatnya.

Seorang teman yang ketika merantau dengan istri memulai hidup baru dengan mendapat pekerjaan sebagai tukang mebel disebuah penjualan toko furniture besar. Karena tekun dan mau belajar serta menujukan attitude yang baik, sang juragan mulai menaruh kepercayaan. Dari hidup dengan menyewa kost kost an, sampai akhirnya sang juragan memberinya tempat sebuah rumah kecil dibelakang mebel pertokooan untuk ditempati bersama sang istri dan disana tinggal sampai melahirkan sang buah hati.(dua)

Seiring dengan berjalan sang waktu kepercayaan semakin besar diperolehnya. Dari menjadi mandor untuk semua tukang tukang mebel sampai dengan berhubungan langsung dengan para customer local dan asing sampai juga dengan urusan keluar masuk transaksi keuangan. Karena sudah merasa mendapatkan ilmunya maka mulailah sang teman ini ingin memiliki mebel sendiri dan pisah dari sang juragan. Tentu sang juragan terpukul, yang sudah memberinya kepercayaan langsung selama beberapa tahun, kecewa dengan keputusan yang diambil sang teman.

Setelah berdikari sendiri sang temanpun membangun kerajaan mebel miliknya dengan cepat dan menjadi besar. Karena memberikan harga yang relatif murah dengan kwalitas yang sama seperti tempatnya dahulu bekerja. Tentu mengundang banyak pelanggannya yang dahulu berpaling ketempatnya. Singkat cerita setiap ketuntungannya di investasikan dengan membeli property. Selain punya beberapa gerai mebel juga mengoleksi property (Villa).

Tidak hanya berinvestasi dalam hal materi sang teman inipun diam diam tanpa sepengetahuan istrinya juga berinvestasi perempuan. Sepandai pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga, kata pepatah. Lambat laun ketahuan juga. Dengan angkuh sang teman mengusir sang istri dari rumah, tanpa belas kasih. Tanpa dibolehkan ditemani anak anaknya. Sang istri mengalah menerim terhadap perlakuannya. Tanpa menuntut apapun. Berkat bantuan teman temannya sang istripun sekarang mendapatkan pekerjaan hanya untuk menyambung hidup, bertemu kadang sembunyi sembunyi dengan anak anaknya.(ooohaaalaahh)

Yang dapat saya simpulkan dari peristiwa diatas. Kenapa sang teman ini lupa diri. Ibaratkan kerajaan istri adalah seorang penasehat kenapa setelah jaya begitu saja mudah dicampakan? Pada hal jasanya sudah demikian banyak ketika sebagai penasehat kerajaan bisnisnya. Inilah masalah kalau hidup kurang pandai bersyukur berterima kasih pada orang lain. Demikian gampangnya melupakan keadaan ketika awal memulainya. Mari kita semua belajar dari peristiwa ini. Elinglah ketika awal awal membangun kerajaan, ada orang yang paling setia menemani dalam suka dan dukanya. Marilah bersikap wajar dalam persoalan, jangan menggunakan egonya sendiri. Rasulullah pernah bersabda:”Siapaun yang tidak bisa berterimakasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”


Tidak ada komentar: