Seorang Raja mencapai zaman kejayaan tidaklah lepas dari
para penasehat atau perdana menteri yang brilian yang dimiliki oleh sebuah
kerajaan. Penasehat penasehat inilah yang dimintai pendapat oleh seorang raja
ketika mengambil sebuah keputusan keputusan terbaik bagi kerajaan. Sehingga sebuah
kerajaan menjadi besar dan jaya sampai ke seantero penjuru dunia. Tapi kadang penasehat penasehat setia seperti
ini mengabdi puluhan tahun tiba tiba mendapat hukuman yang tidak bisa sebanding
dengan pengabdiannya. Raja membuat keputusan yang keliru bagi kerajaannya dan
yang disalahkan adalah para penasehatnya.
Seorang teman yang ketika merantau dengan istri memulai
hidup baru dengan mendapat pekerjaan sebagai tukang mebel disebuah penjualan
toko furniture besar. Karena tekun dan mau belajar serta menujukan attitude
yang baik, sang juragan mulai menaruh kepercayaan. Dari hidup dengan menyewa
kost kost an, sampai akhirnya sang juragan memberinya tempat sebuah rumah kecil
dibelakang mebel pertokooan untuk ditempati bersama sang istri dan disana tinggal
sampai melahirkan sang buah hati.(dua)
Seiring dengan berjalan sang waktu kepercayaan semakin besar
diperolehnya. Dari menjadi mandor untuk semua tukang tukang mebel sampai dengan
berhubungan langsung dengan para customer local dan asing sampai juga dengan
urusan keluar masuk transaksi keuangan. Karena sudah merasa mendapatkan ilmunya
maka mulailah sang teman ini ingin memiliki mebel sendiri dan pisah dari sang
juragan. Tentu sang juragan terpukul, yang sudah memberinya kepercayaan
langsung selama beberapa tahun, kecewa dengan keputusan yang diambil sang teman.
Setelah berdikari sendiri sang temanpun membangun kerajaan
mebel miliknya dengan cepat dan menjadi besar. Karena memberikan harga yang
relatif murah dengan kwalitas yang sama seperti tempatnya dahulu bekerja. Tentu
mengundang banyak pelanggannya yang dahulu berpaling ketempatnya. Singkat
cerita setiap ketuntungannya di investasikan dengan membeli property. Selain
punya beberapa gerai mebel juga mengoleksi property (Villa).
Tidak hanya berinvestasi dalam hal materi sang teman inipun
diam diam tanpa sepengetahuan istrinya juga berinvestasi perempuan. Sepandai pandai
tupai melompat akhirnya jatuh juga, kata pepatah. Lambat laun ketahuan juga.
Dengan angkuh sang teman mengusir sang istri dari rumah, tanpa belas kasih. Tanpa
dibolehkan ditemani anak anaknya. Sang istri mengalah menerim terhadap
perlakuannya. Tanpa menuntut apapun. Berkat bantuan teman temannya sang
istripun sekarang mendapatkan pekerjaan hanya untuk menyambung hidup, bertemu
kadang sembunyi sembunyi dengan anak anaknya.(ooohaaalaahh)
Yang dapat saya simpulkan dari peristiwa diatas. Kenapa sang
teman ini lupa diri. Ibaratkan kerajaan istri adalah seorang penasehat kenapa
setelah jaya begitu saja mudah dicampakan? Pada hal jasanya sudah demikian
banyak ketika sebagai penasehat kerajaan bisnisnya. Inilah masalah kalau hidup
kurang pandai bersyukur berterima kasih pada orang lain. Demikian gampangnya
melupakan keadaan ketika awal memulainya. Mari kita semua belajar dari
peristiwa ini. Elinglah ketika awal awal membangun kerajaan, ada orang yang
paling setia menemani dalam suka dan dukanya. Marilah bersikap wajar dalam
persoalan, jangan menggunakan egonya sendiri. Rasulullah pernah bersabda:”Siapaun
yang tidak bisa berterimakasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada
Allah.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar