Kalau kita membaca kisah kisah orang dahulu yang begitu kuat
keyakinannya, patut kita jadikan referensi kehidupan seperti di era seperti
sekarang ini. Tehnologi yang begitu majunya kadang kita di nina bobokan, dimana
suatu keyakinan itu begitu mudahnya berpindah hanya karena nafsyu dunia. Banyak
terlihat faktanya seperti kehidupan rumah tangga tak lagi dipandang sebagai
suatu yang sangat suci untuk dipertahankan malah kebanyakan umurnya tak seumur
jagung.
Mari kita ikuti beberapa kisah kisah dibawah ini:
Pertama. Kisah seorang yang bernama Bilal bin Rabah radhiyallahu’
anhu, beliau adalah seorang muadzin tetap di Masjid Nabawi, beliau adalah seorang budak milik orang kafir
dari Umayyah bin Khalaf, kemudian beliau memeluk islam sebagai keyakinanya yang baru. Karena inilah beliau mengalami penyiksaan
penyiksaan. Beliau pernah disiksa di sebuah padang pasir yang terik mataharinya
sangat menyengat dibaringkan serta ditindih oleh batu besar yang sangat panas
pula. “Inginkah kamu mati dengan cara begini, engkau akan tetap hidup jika
engkau tinggalkan Islam” seru majikannya. Sebagai budak saat itu beliau hanya
bisa menjawab, “ahad..ahad! (maksudnya beliau menyebut “Allah…Allah” yang hanya
satu patut disembah).
Beliaupun juga mengalami siksaan dicambuk dengan
luka yang sangat parah dan keesokan harinya beliau masih dalam keadaan luka itu
dijemur kembali di terik Padang pasir yang menyengat sehingga lukanya semakin
parah. Sampai sampai sang penyiksanya keletihan sendiri. Tapi beliau tetap
tidak mau mengubah iman keyakinanya. Sampai pada akhirnya beliau dimerdekakan oleh
sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.
Kedua. Kisah seorang sahabat yang bernama Khabbab bin Al Arat.
Beliau adalah juga seorang budak milik seorang wanita kafir. Disebabkan wanita
itu ketahuan sering menjumpai Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wassalam, wanita tersebut pernah dihukum oleh
majikannya dengan cara menyengatkan besi panas diatas kepalanya. Beliau juga
pernah mengalami siksaan dengan cara dikenakan baju besi di badannya dan
dijemur juga diterik Padang pasir yang panas sampai terkelupas daging kulit
dipunggungnya.
Ketika zaman khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu
pernah menyuruh Khabbab radhiyallahu ‘anhu menceritakan kembali penderitaan
yang pernah beliau alami, Khabbab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Lihatlah
punggungku ini!” Khalifah Umar melihatnya dan berkata, “Belum pernah aku
melihat punggung yang terluka separah ini!” Khabbab radhiyallahu ‘anhu berkata:
‘’ Pernah aku juga diseret diatas timbunan bara api yang menyala nyala,
sehingga lemak dan darah yang mengalir dipunggungku memadamkan bara api itu.”
Ketiga. Kisah sahabat Ammar dan kedua orang tuanya (Yasir dan Summayyah) pernah juga mengalami
siksaan dengan cara dibaringkan ditengah terik panasnya Padang pasir sehingga
Ayahnyapun wafat disebabkan oleh penyiksaan tersebut. Sedangkan Ibunya Sumayyah
radhiyallahu’anha mati syahid karena
ditikam kemaluannya dengan tombak oleh
Abu Jahal, beliau tercatat sebagai orang yang pertama mati syahid dalam sejarah
Islam. Bayangkan sampai demikian pengorbanan beliau beliau itu dalam mempertahankan teguhnya keyakinannya.
Dari cuplikan kisah kisah diatas sangat luar biasanya mereka
mereka dahulu memperjuangkan apa yang menjadi Iman keyakinannya. Di era sekarang ini
dengan kemajuan tehnologi yang begitu canggihnya sangat mampu mempengaruhi kehidupan
seseorang melalaui tontonan yang disuguhkan oleh media media elktronik melalui
HP, TV Cable, Film import, dan diserap begitu gampangnya. Masihkan kita mampu
untuk mempertahankan teguhnya keyakinan iman kita seperti yang telah diperjuangkan oleh para
pendahulu kita di zamannya? Wallahualam.(AhmadZahrudin).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar