Jumat, 19 Februari 2016

Jaga sikap menahan diri

Di dalam ber interaksi sosial sering kali kita mendapat penghukuman yang tampak secara nyata di lingkungan, tapi tak pernah ada dalam wujud hukum tertulis. Seperti terisolirnya kita berhubungan dengan satu tetangga dengan tetangga yang lain akibat adanya suatu perbuatan kita sendiri  atau ada keluarga yang melakukan perbuatan kurang menyenangkan dalam berinteraksi dengan lingkungan. Kita mendapatkan penghukuman tidak terlihat tapi dampaknya langsung dirasakan.

Ketika lisan ini sering usil memberikan komentar  yang tidak menyenangkan yang dikerjakan oleh orang lain, sedangkan kita memberikan pendapat/opini yang tidak menyenangkan ada orang lain menyampaikan dan di dengar oleh banyak pihak maka inilah awalnya mulanya kita akan mendapat penghukuman. Hukuman ini akan tampak ketika kita mempunyai hajad, atau ketika kita  mendapat musibah. Sedikit sekali tetangga dekat kita yang akan datang untuk menengok berempaty. Seperti orang jawa bilang:”urip iku tergantung tandurane.”

Perbuatan yang kita lakukan di lingkungan kita kadang  tidak menunggu sampai ada balasan dari Allah ketika kita diadili nanti. Tapi nyata secara langsung dapat kita rasakan penghukuman dari lingkungan sendiri. Suatu perbuatan yang baik akan melahirkan kebaikan dan suatu perbuatan jelek akan melahirkan kejelekan bagi kita sendiri. Sebagai orang yang beriman dalam hal berinteraksi sosial dalam masyarakat sebaik sikapyang positif sajalah yang kita kedepankan. Mengapa? Ini akan memproteksi kita dan keluarga dari suatu  penghukuman.

Sebaiknya tidak terlalu banyak sibuk memberikan penilaian terhadap orang lain. Serahkan penilaian itu kepada Allah semata, bukankah nanti beliau sendiri yang memberikan hukuman. Kenapa kita sibuk memberikan penilaian terhadap seseorang yang belum tentu kebenarannya, akhirnya kita sendiri dan keluarga mendapat balanya,  berupa pengasingan dalam pergaulan di lingkungan, tentu sangat merugikan bagi kita bukan?

Dalam pergaulan di lingkungan masyarakat kita perlu jaga sikap untuk menahan diri akan sesuatu yang kita lihat tapi tidak berkenan dengan hati kita sendiri. Apa yang  ada dalam hati kita sendiri belum tentu sama dengan apa persepsi orang lain. Sikap menahan diri atau kontrol diri sangatlah sebaiknya kita jaga. Sehingga selamatlah diri kita dan keluarga dunia akherat. Hubungan lingkungan terjaga dengan baik, Image sebuah keluarga juga menjadi baik.

Kesimpulannya kalau kita memang tidak tahu akan kebenaran suatu masalah sebaiknya tidak usahlah kita ikut nimbrung memberi opini. Kita tidak tahu akar masalahnya. Sebab ini akan menjadi factor penyebebab utama dari sebuah penghukuman. Hidup dalam berinteraksi sosial itu perlu pandai pandai memfilter masalah yang bukan menjadi ranah kita. Sebaiknya sikap mehanan diri perlu dijaga agar tidak memperlebar masalah. Lingkungan terjaga keluarga tidak menemukan masalah dalam berinteraksi dengan lingkungan.



Sang teman lupa diri

Seorang Raja mencapai zaman kejayaan tidaklah lepas dari para penasehat atau perdana menteri yang brilian yang dimiliki oleh sebuah kerajaan. Penasehat penasehat inilah yang dimintai pendapat oleh seorang raja ketika mengambil sebuah keputusan keputusan terbaik bagi kerajaan. Sehingga sebuah kerajaan menjadi besar dan jaya sampai ke seantero penjuru  dunia. Tapi kadang penasehat penasehat setia seperti ini mengabdi puluhan tahun tiba tiba mendapat hukuman yang tidak bisa sebanding dengan pengabdiannya. Raja membuat keputusan yang keliru bagi kerajaannya dan yang disalahkan adalah para penasehatnya.

Seorang teman yang ketika merantau dengan istri memulai hidup baru dengan mendapat pekerjaan sebagai tukang mebel disebuah penjualan toko furniture besar. Karena tekun dan mau belajar serta menujukan attitude yang baik, sang juragan mulai menaruh kepercayaan. Dari hidup dengan menyewa kost kost an, sampai akhirnya sang juragan memberinya tempat sebuah rumah kecil dibelakang mebel pertokooan untuk ditempati bersama sang istri dan disana tinggal sampai melahirkan sang buah hati.(dua)

Seiring dengan berjalan sang waktu kepercayaan semakin besar diperolehnya. Dari menjadi mandor untuk semua tukang tukang mebel sampai dengan berhubungan langsung dengan para customer local dan asing sampai juga dengan urusan keluar masuk transaksi keuangan. Karena sudah merasa mendapatkan ilmunya maka mulailah sang teman ini ingin memiliki mebel sendiri dan pisah dari sang juragan. Tentu sang juragan terpukul, yang sudah memberinya kepercayaan langsung selama beberapa tahun, kecewa dengan keputusan yang diambil sang teman.

Setelah berdikari sendiri sang temanpun membangun kerajaan mebel miliknya dengan cepat dan menjadi besar. Karena memberikan harga yang relatif murah dengan kwalitas yang sama seperti tempatnya dahulu bekerja. Tentu mengundang banyak pelanggannya yang dahulu berpaling ketempatnya. Singkat cerita setiap ketuntungannya di investasikan dengan membeli property. Selain punya beberapa gerai mebel juga mengoleksi property (Villa).

Tidak hanya berinvestasi dalam hal materi sang teman inipun diam diam tanpa sepengetahuan istrinya juga berinvestasi perempuan. Sepandai pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga, kata pepatah. Lambat laun ketahuan juga. Dengan angkuh sang teman mengusir sang istri dari rumah, tanpa belas kasih. Tanpa dibolehkan ditemani anak anaknya. Sang istri mengalah menerim terhadap perlakuannya. Tanpa menuntut apapun. Berkat bantuan teman temannya sang istripun sekarang mendapatkan pekerjaan hanya untuk menyambung hidup, bertemu kadang sembunyi sembunyi dengan anak anaknya.(ooohaaalaahh)

Yang dapat saya simpulkan dari peristiwa diatas. Kenapa sang teman ini lupa diri. Ibaratkan kerajaan istri adalah seorang penasehat kenapa setelah jaya begitu saja mudah dicampakan? Pada hal jasanya sudah demikian banyak ketika sebagai penasehat kerajaan bisnisnya. Inilah masalah kalau hidup kurang pandai bersyukur berterima kasih pada orang lain. Demikian gampangnya melupakan keadaan ketika awal memulainya. Mari kita semua belajar dari peristiwa ini. Elinglah ketika awal awal membangun kerajaan, ada orang yang paling setia menemani dalam suka dan dukanya. Marilah bersikap wajar dalam persoalan, jangan menggunakan egonya sendiri. Rasulullah pernah bersabda:”Siapaun yang tidak bisa berterimakasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”


Selasa, 09 Februari 2016

Jangan meremehkan perintah mendirikan shalat.

Shalat adalah bagian dari rukun Islam. Hukumnya adalah wajib untuk dikerjakan. Dikerjakan mendapat ganjaran pahala, kalau ditinggalkan adalah dosa. Shalat diibaratkan adalah tiang agama. Tiang menjadi pilar penopang, jika pilar penopang itu roboh maka hancurlah semuanya. Jadi jangan pernah meremehkan shalat.

Dalam hadits disebutkan: “ Perkara yang pertama kali ditanya dari seorang hamba nanti di hari kiamat adalah dari amalnya adalah shalatnya. Jika shalatnya diterima, maka amal yang lainnya pun diterima. Jika shalat itu ditolak, maka amalan lainnya pun demikian.”

 Untuk diketahui kegagalan dalam mendirikan shalat adalah”bencana” bagi kita. Karena shalat adalah wajib hukumnya untuk dikerjakan, bila kita meninggalkannya akan mengundang “murka Allah.”

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari(perbuatan) keji dan mungkar dan sesungguhnya mengingat Allah (Shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari Ibadah ibadah yang lain) dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Surah Al-Ankabut ayat 45).

Dengan mendirikan shalat dan tanpa ada satupun yang ditinggalkan diharapkan akan mampu mengubah pribadi seseorang dari hal hal perbuatan tercela menjadi perbuatan yang menuju kepada suatu kebaikan, membentuk ahlak yang baik dan terpuji. Sudah selayaknyalah kita senantiasa menjaga shalat lima waktu. Dikatakan siapapun yang mampu menjaganya disamakan dengan dia sudah menjaga agamanya.

Tidak cukup bagi kita hanya sekedar membenarkan bahwa shalat itu adalah wajib hukumnya. Tetapi harus desertai dengan tindakan yang tulus untuk mendirikannya. Ketulusan yang disertai oleh dorongan Iman yang kuat.  Iman yang tidak hanya ada dalam bayangan saja, tapi iman yang sungguh sungguh terpatri di lubuk hati terdalam lalu di implementasikan didalam sebuah ujud berupa tindakan nyata.

Lebih afdol lagi jikalau dikerjakan dengan cara berjamaah di masjid atau di langgar. Karena Shalat berjamaah memiliki suatu keistimewaan tersendiri dengan ganjaran 27 kali pahala ketimbang kita shalat sendiri dirumah. Keistimewaan lain ketika kita berdiri menyatu dalam satu shaf  tidak ada lagi tampak jurang  perbedaan status social kita dalam kemasyarakatan.  Selain daripadanya  setiap langkah dan kaki kita menuju Masjid berjamaah sudah terhitung pahalanya.

Rasulullah bersabda: “Shalat berjamaah lebih Utama daripada shalat sendirian dengan 27 kali ganda.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mari mulai saat ini kita tegakan kewajiban shalat 5 waktu kita dengan sungguh sungguh sesibuk apapun urusan dunia kita, jangan sampai terlewatkan. Semoga bermanfaat sedikit ilmu diatas mampu meberikan warning dengan apa yang sudah dilakukan dengan shalat kita.



Sabtu, 06 Februari 2016

Sejauh mana teguhnya iman anda


Kalau kita membaca kisah kisah orang dahulu yang begitu kuat keyakinannya, patut kita jadikan referensi kehidupan seperti di era seperti sekarang ini. Tehnologi yang begitu majunya kadang kita di nina bobokan, dimana suatu keyakinan itu begitu mudahnya berpindah hanya karena nafsyu dunia. Banyak terlihat faktanya seperti kehidupan rumah tangga tak lagi dipandang sebagai suatu yang sangat suci untuk dipertahankan malah kebanyakan umurnya tak seumur jagung.
Mari kita ikuti beberapa kisah kisah dibawah ini:

Pertama. Kisah seorang yang bernama Bilal bin Rabah radhiyallahu’ anhu, beliau adalah seorang muadzin tetap di Masjid Nabawi,  beliau adalah seorang budak milik orang kafir dari Umayyah bin Khalaf, kemudian beliau  memeluk islam sebagai keyakinanya yang baru.  Karena inilah beliau mengalami penyiksaan penyiksaan. Beliau pernah disiksa di sebuah padang pasir yang terik mataharinya sangat menyengat dibaringkan serta ditindih oleh batu besar yang sangat panas pula. “Inginkah kamu mati dengan cara begini, engkau akan tetap hidup jika engkau tinggalkan Islam” seru majikannya. Sebagai budak saat itu beliau hanya bisa menjawab, “ahad..ahad! (maksudnya beliau menyebut “Allah…Allah” yang hanya satu patut disembah).

Beliaupun juga mengalami siksaan dicambuk dengan luka yang sangat parah dan keesokan harinya beliau masih dalam keadaan luka itu dijemur kembali di terik Padang pasir yang menyengat sehingga lukanya semakin parah. Sampai sampai sang penyiksanya keletihan sendiri. Tapi beliau tetap tidak mau mengubah iman keyakinanya. Sampai pada akhirnya beliau dimerdekakan oleh sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.

Kedua. Kisah seorang sahabat yang bernama Khabbab bin Al Arat. Beliau adalah juga seorang budak milik seorang wanita kafir. Disebabkan wanita itu ketahuan sering menjumpai Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wassalam, wanita tersebut pernah dihukum oleh majikannya dengan cara menyengatkan besi panas diatas kepalanya. Beliau juga pernah mengalami siksaan dengan cara dikenakan baju besi di badannya dan dijemur juga diterik Padang pasir yang panas sampai terkelupas daging kulit dipunggungnya.

Ketika zaman khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah menyuruh Khabbab radhiyallahu ‘anhu menceritakan kembali penderitaan yang pernah beliau alami, Khabbab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Lihatlah punggungku ini!” Khalifah Umar melihatnya dan berkata, “Belum pernah aku melihat punggung yang terluka separah ini!” Khabbab radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘’ Pernah aku juga diseret diatas timbunan bara api yang menyala nyala, sehingga lemak dan darah yang mengalir dipunggungku memadamkan bara api itu.”

Ketiga. Kisah sahabat Ammar dan kedua orang tuanya (Yasir dan Summayyah) pernah juga mengalami siksaan dengan cara dibaringkan ditengah terik panasnya Padang pasir sehingga Ayahnyapun wafat disebabkan oleh penyiksaan tersebut. Sedangkan Ibunya Sumayyah radhiyallahu’anha mati syahid karena ditikam kemaluannya dengan tombak  oleh Abu Jahal, beliau tercatat sebagai orang yang pertama mati syahid dalam sejarah Islam. Bayangkan sampai demikian pengorbanan beliau beliau itu dalam mempertahankan teguhnya keyakinannya.

Dari cuplikan kisah kisah diatas sangat luar biasanya mereka mereka dahulu memperjuangkan apa yang menjadi Iman keyakinannya. Di era sekarang ini dengan kemajuan tehnologi yang begitu canggihnya sangat mampu mempengaruhi kehidupan seseorang melalaui tontonan yang disuguhkan oleh media media elktronik melalui HP, TV Cable, Film import, dan diserap begitu gampangnya. Masihkan kita mampu untuk mempertahankan teguhnya keyakinan iman kita seperti yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu kita di zamannya? Wallahualam.(AhmadZahrudin).





Selasa, 02 Februari 2016

7 Kebiasaan penghalang rezki datang

Sesuatu yang menjadi kebiasaan yang kita kerjakan kadang tanpa disadari menyebabkan rezki kita terhalang. Kenapa tidak kita sadari? Apa saja kebiasaan kebiasaan yang mampu menutup rezki kita? Darimana saja datangnya? Mari kita lihat beberapa kebiasaan yang kita kerjakan dibawah ini:

Pertama.  Ghibah atau banyak bergunjing.

 Membicarakan orang lain yang dibicarakan orangnya tidak ada ditempatnya yang nanti apabila mendengarnya menyebabkan yang dibicarakan menjadi tidak senang, entah sikapnya, rezkinya, tingkah lakunya, pakaiannya, bahkan sampai kejelekannya dibicarakan seolah orang tidak ada baiknya sama sekali. Kenapa kita sibuk mengurus kehidupan orang lain? Tanpa disadari kadang diri ini tidak lebih baik daripada orang yang dibicarakan. Biasanya banyak terjadi pada kaum hawa atau mereka yang hidup di perumahan perumahan. Daripada  banyak bergunjing kenapa tidak digunakan untuk memperbaiki diri kita sendiri.

Kedua. Riya’ atau suka menojolkan barang barang miliknya.

Eh..mau lihat ngga aku punya sofa baru harganya…..eh mau lihat ngga aku punya tas, jam tangan, baju, sepatu dll. ini belinya di luar negeri harganya…… Sifatnya mengharapkan pujian dari orang banyak. Bukannya dibawa bersyukur atas anugrah dan nikmat yang sudah diberikan, dan digunakan di jalan Allah melainkan ingin dipuji puji bahwa dirinya mampu.

Ketiga. Sangat suka sekali dengan Materi.

Suka dengan gaya hidup yang bermewah mewahan. Mendewakan kepemilikan harta yang berlebihan, suka foya foya dan bersenang senang tanpa ada perasaan peka bahwa masih ada saudara yang masih hidup dalam kekurangan seolah olah harta yang dihasilkan adalah hasil kerja kerasnya semata tanpa melibatkan sang pemberi rezki yaitu Allah SWT.

Keempat. Banyak mengeluhnya.

Barang dagangan sedikit pembelinya mengeluh, makanan dihidangkan dirumah rasanya ngga enak mengeluh, ngga dapat banyak job mengeluh, segala yang tak menyenangkan hatinya selalu mengeluh. Ini sama saja dengan meremehkan dan mengecilkan arti pemberian Allah.

Qu’ran menjawab: “Janganlah kamu bersifat lemah dan jangan pula kamu bersedih hati, pada hal kamulah orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang orang yang beriman.”(Surah Al-Imran ayat 139)

Kelima. Gampang tersulut emosinya atau marah.

Tidak bisa menerima maaf dari kesalahan orang lain yang tanpa sengaja merusak miliknya, dengan sikap emosi yang tak terkontrol dan memarahi dan memaki maki orang lain. Tak bisa menerima kondisi atas kejadian yang menimpanya. Gampang emosinya tersulut atas hasutan orang lain.

Kelima. Makan makanan yang tidak halal.

Utamanya di zaman sekarang ini makan makanan dari sumber hasil korupsi atau gratifikasi, riba atau memakan makanan yang dilarang seperti bangkai, darah dan atau makanan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah. Yakinkan bahwa apapun makanan yang masuk kedalam tubuh kita berasal dari hasil yang bersumber dari yang halal, tidak merugikan orang lain.

Keenam. Kurang menjaga kebugaran tubuh.

Hendaknya kita bagi dan pergunakan dengan sebaik baiknya waktu yang sudah diberikan sebesar 24 jam yang sama ke setiap orang. Disini maksudnya kurang memperhatikan kesehatan tubuh seperti berolah raga, agar terjaganya metabolisme tubuh yang baik, tercipta tubuh yang sehat yang bisa digunakan untuk hal hal yang positive. Jangan sampai dibawa begadang dan mabo mabokan sehingga tubuh menjadi lemah dan gampang terserang penyakit. Kalau kita sakit sakitan upaya atau ikhtiar untuk menjemput rezki Allah menjadi terhalang.

Ketujuh.  Hubbud-dunya atau Gila dunia atau Cinta Dunia.

Rasullulah bersabda : “Apabila ummatku sudah mengagungkan dunia maka akan dicabutlah kehebatan islam, dan apabila mereka meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, maka akan diharamkan keberkahan wahyu, dan apabila ummatku saling mencaci, maka jatuhlah mereka dalam pandangan Allah.”(HR. Hakim dan Tirmidzi).

Terlalu mementingkan kehidupan dunia sehingga kita melalaikan kewajiban kewajiban ibadah yang harus kita kerjakan seperti mengerjakan shalat wajib 5 kali sehari. Berlama lama ngobrol ditempat seperti CafĂ©, Kedai Kopi, Starbucks, yang semuanya ada fasilitas  WiFi nya, atau ada NOBAR. Sehingga ketika adzan tiba kita asyik saja ngobrol dan tidak menghiraukan panggilan Allah untuk menunaikan kewajiban kita kepada Allah untuuk shalat. Kita mampu ngobrol berjam jam sedangkan waktu untuk Allah hanya kita berikan cuman less than 5 minutes.

Kalau kita masih sering mengerjakan hal hal yang disebutkan diatas sungguh rasanya malu diri ini meminta  dan memohon keberlimpahan rezki darinya. Kita harus punya rasa malu di hati kalau hal hal diatas masih ada, dan tak mampu kita delete dari dalam hati kita. Cobalah mulai dari sekarang kita ayo kita kikis perlahan perlahan penghalang penghalang rezki dan kita jauhkan. Sehingga kita menjadi insan yang ber akhlaq mulia, berjiwa seimbang dan berfungsi akalnya secara optimal.